Minggu, 10 Juli 2011

Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Sumba Timur

I.            Pendahuluan

Wilayah Kabupaten Sumba Timur merupakan daerah /salah satu Kabupaten di Nusa Tenggara Timur yang terletak dibagian selatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya secara Astronomis membentang antara 119o 45 – 120o 52 BT dan 9o 16 - 10 o 20 LS dengan luas wilayah seluas 7000, 5 Km2.
Pulau Sumba sebagai salah satu pulau terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas daratan 11.052,40 km2 dimana terdapat ±  80% semak belukar dan padang rumput yang secara geografis terdiri dari hamparan bukit, lembah, dab undulating (bergelombang) dan topografi yang memiliki kelas lereng curam sampai dengan sangat curam. dengan bentang alam yang berbukit terjal dan lembah yang dalam inilah  merupakan pemandangan alam yang eksotis khas Kabupaten Sumba Timur.
Secara keseluruhan Kabupaten Sumba Timur adalah bagian dari Pulau Sumba, dengan batas sebagai berikut :
§  Sebelah utara, berbatasan dengan Selat Sumda
§  Sebelah Selatan, berbatasan dengan Laut Hindia
§  Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Sumba Tengah
§  Sebelah Timur, berbatasan dengan Laut Sabu.

Pendapatan perkapita masyarakat Sumba Timur saat ini tergolong masih rendah   pada umumnya adalah tipe masyarakat petani pedesaan, bergerak di bidang pertanian dan peternakan sehingga salah satu sector untuk meningkatkan pendapatan masyarakat  adalah dengan  upaya pengembangan industri pariwisata. Jumlah Penduduk yang ada di Kabupaten Sumba Timur pada saat ini  sebanyak 225.906 jiwa dengan nilai kepadatan penduduk sebesar 32 per Km2. Dengan jumlah laki-laki sebesar 116.241 orang dan perempuan 109.665 orang ( BPS Kab. Sumba Timur 2010).

II.          Destinasi Wisata Alam di Sumba Timur

Dewasa ini kebutuhan masyarakat untuk berwisata di alam terbuka dirasakan semakin meningkat. Hal ini terutama disebabkan karena tingkat kepadatan penduduk kota yang tinggi yang menuntut kesibukan yang luar biasa sehingga cepat menimbulkan rasa lelah dan jenuh. Seiring dengan peningkatan kebutuhan  masyarakat akan wisata di alam terbuka, dewasa ini telah banyak dikembangkan gagasan untuk mengemas kegiatan wisata tersebut menjadi sebuah industri yang memberikan keuntungan secara maksimal. Kondisi seperti ini selain dipandang cukup kondusif tentu saja perlu dicermati.
Pariwisata dengan kualitas lingkungan sebagai komoditas andalannya telah berkembang menjadi sebuah fenomena buyers market khususnya sejak berakhirnya Perang Teluk (Parnwell dalam Hitchcock et al., 1994: 286). Selain obyek wisata yang menarik, wisatawan membutuhkan kepastian bahwa daerah tujuan yang dikunjungi memiliki kualitas lingkungan yang tinggi dan bebas polusi. Banyak wisatawan bahkan mengalihkan daerah tujuan wisata mereka begitu diketahui bahwa kualitas lingkungan obyek wisata yang mereka harapkan ternyata tidak terpenuhi. Sebagai bagian integral dalam pembangunan, wisata melibatkan sistem alami yang lengkap: alam raya, ruang, dan galaksi (termasuk di dalamnya manusia dengan segala aktivitasnya), hidupan liar (wildlife), gunung dan lembah, sungai dan air, hutan dan pepohonan, sistem sosial-budaya, flora dan fauna, cuaca dan iklim, matahari dan lautan.

 Pulau Sumba mempunyai potensi pariwisata yang cukup besar bagaikan harta terpendam yang belum tengah dikembangi, terlebih-lebih lokasi dan berbagai jenis pariwisata di Kabupaten Sumba Timur. Berdasarkan Bentang Alam  Kabupaten Sumba Timur ini memiliki keindahan panorama alam, kekayaan fauna dan flora yang mampu mempesona wisatawan.

Dengan mengangkat sektor pariwisata Kabupaten Sumba Timur sebagai salah satu fokus kegiatan pembangunan, diyakini akan memberikan kontribusi terhadap Perolehan Asli Daerah/ PAD yang sangat berarti khususnya untuk Kabupaten Sumba Timur dan bagi Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur. Disamping itu akan mendorong peningkatan mutu Sumber Daya Manusia masyarakat di daerah ini.

Kabupaten Sumba Timur memiliki banyak lokasi pariwisata, baik yang telah dikenal oleh masyarakat maupun yang belum dikenal dan masih bersifat potensial serta belum tersentuh pembangunan sebagaimana layaknya suatu lokasi pariwisata. Sumber Daya Alam kepariwisataan yang dimiliki sangat beragam meliputi budaya, keindahan alam, fauna dan flora sehingga diyakini berpotensi mendukung peningkatan kemakmuran masyarakat Kabupaten Sumba Timur. Kategori jenis wisata yang paling banyak adalah ekowisata.

Dalam satu dekade terakhir terjadi perubahan kecendrungan wisatawan dalam memilih objek atau lokasi wisata untuk dikunjungi. Wisatawan tidak lagi ingin sekedar datang untuk melihat dan menikmati daya tarik objek wisata tertentu dengan kekhasannya tetapi telah meningkat keinginan kearah yang dapat memberikan tambahan wawasan, pengalaman dan pengetahuan baru.

Ada beberapa destinasi wisata alam yang telah tetapkan sebagai Obyek Wisata di Sumba Timur. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Sumba Timur Nomor: 270/Pariwisata/556.1/448/VII/2006 tentang Penetapan Obyek Wisata di Kabupaten Sumba Timur,  adalah diantaranya :
Tabel 1. Potensi Wisata Alam Di Sumba Timur
No
Nama obyek
Lokasi
Desa
Kecamatan
Jarak ke ibukota kabupaten
1
2
3
4
5
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.

20.
21.
22.
23.



24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
Pantai Londa Lima
Pantai Puru Kambera
Pantai Kalala
Pantai Watu Parunu
Pantai Waihungu
Pantai Katundu
Pantai Tarimbang
Pantai Walakari
Pantai Tawui
Air Terjun Gunung Meja
Air Terjun Laputi
Air Terjun Hiru Manu
Air Terjun Kamanggih
Air Terjun Koalak
Air Terjun Kanabu Wai
Air Terjun Laluku
Goa Paumbapa
Goa Laiwanggi
Goa Sarang Burung Umamanu
Air Terjun Wai Bara
Pulau Salura
Pulau Manggudu
Kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti


Taman Wisata Matawai
Kampung Prainatang
Kampung Kawangu
Kampung Watumbaka
Kampung Praiyawang
Kampung Uma Bara
Kampung Tambahak
Kampung Kaliuda
Kampung Wundut
 Kampung Praikalitu
Kampung Wunga
Kampung Rambangaru
Kampung Praibakul
Kampung Prailiu
Kuta
Hamba Praing
Hadakamali
Laijanji
Praimadita
Praimadita
Tarimbang
Watumbako
Tawui
Temu
Praingkareha
Kananggar
Kamanggih
Maidang
Waikanabu
Pindu Horani
Praingkareha
Praingkareha
Umamanu

Mahubokul
Salura





Matawai
Mondu
Kawangu
Watumbaka
Rindi
Watu Hadang
Watu Puda
Kaliuda
Wundut
Lewa Paku
 Wunga
Rambangaru
Praingkareha
Prailiu
Haharu
Haharu
Wulla Waijilu
Wulla Waijilu
Karera
Karera
Tabundung
Tabundung
Pinu Pahar
Haharu
Tabundung
Paberewai
Kahaungu Eti
Tabundung
Tabundung
Tabundung
Tabundung
Tabundung
Lewa

Matawai Lapau
Karera
Karera
Pinu Pahar, Matawai Lapu, Tabundung, Karera
Kota waingapu
Haharu
Pandawai
Pandawai
Rindi
Umululu
Umululu
Pahunga Lodu
Lewa
Lewa
Haharu
Haharu
Tabundung
Kota Waingapu
12 km
26 km
124 km
162 km
162 km
162 km
120 km
24 km
124 km
15 km
115 km
121 km
42 km
60 km
130 km
110 km
116  km
117 km
30 km

40 km
150 km
150 km
100 km



1 km
33 km
12 km
12 km
69 km
66 km
67 km
120 km
62 km
66 km
63 km
20 km
115 km
2 km
  Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur

Berdasarkan data yang diperoleh, menunjukan bahwa dari tahun ke tahun minat wisatawan untuk mengunjungi Pulau Sumba Khususnya Kabupaten Sumba Timur  mulai mengalami kecenderungan menurun ini bisa kita lihat dari jumlah pengunjung yang datang ke Kabupaten Sumba Timur, (baik itu melalui jalur darat maupun jalur udara serta jumlah tamu yang menginap di Hotel maupun Losmen ) dari Tahun 2008 ke Tahun 2009. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategis dan kebijakan guna meningkatkan daya tarik wisatawan untuk datang ke Sumba khusunya di Kabupaten Sumba Timur. 
Tabel 2. Jumlah Tamu yang menginap di Hotel/Losmen
Bulan
Tahun 2008
Tahun 2009
WNA
WNI
Total
WNA
WNI
Total
Januari
10
355
365
11
293
304
Februari
23
257
280
23
502
525
Maret
32
457
489
45
263
308
April
23
440
463
16
481
497
Mei
39
638
677
16
393
409
Juni
49
710
759
18
695
713
Juli
95
569
664
88
624
712
Agustus
65
705
770
50
563
613
September
53
422
475
76
586
662
Oktober
28
642
670
21
627
648
November
30
513
543
13
535
548
Desember
7
444
451
14
659
673
Total
454
6152
6606
391
6221
6593
             Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumba Timur Tahun 2010

Tabel 3. Banyaknya Pesawat dan Jumlah Penumpang yang melalui Bandar Udara Umbu Rara Mehang Kunda

Tahun
Pesawat
Penumpang(orang)
Transit
(orang)
Datang
Berangkat
Datang
Berangkat
Tahun 2008
625
625
23.507
24.290
17.740
Tahun 2009
555
 555
22.190
23.074
34.880
     Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumba Timur Tahun 2010


Tabel 4. Arus Penumpang yang menggunakan jasa Kapal Laut
Bulan
Tahun 2008 (orang)
Tahun 2009
 (orang)
Januari
1670
2014
Februari
1043
1375
Maret
1972
1686
April
1921
1375
Mei
943
544
Juni
944
2464
Juli
3813
3264
Agustus
2558
1667
September
2795
1390
Oktober
3968
1819
November
1739
1355
Desember
3304
2915
Total
26.675
21.877
     Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumba Timur Tahun 2010


III.        Kebijakan dan Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat

Istilah “ekowisata” dapat diartikan sebagai perjalanan oleh seorang turis ke daerah Terpencil dengan tujuan menikmati dan mempelajari mengenai alam, sejarah dan budaya di suatu daerah, di mana pola wisatanya membantu ekonomi masyarakat local dan mendukung pelestarian alam

Beberapa aspek kunci dalam ekowisata adalah:
·         Jumlah pengunjung terbatas atau diatur supaya sesuai dengan daya dukung
·         lingkungan dan sosial-budaya masyarakat (vs mass tourism)
·         Pola wisata ramah lingkungan (nilai konservasi)
·         Pola wisata ramah budaya dan adat setempat (nilai edukasi dan wisata)
·         Membantu secara langsung perekonomian masyarakat lokal (nilai  ekonomi)
·         Modal awal yang diperlukan untuk infrastruktur tidak besar (nilai partisipasi masyarakat dan ekonomi).


Kebijakan Pemerintah Daerah guna meningkatkan  pertumbuhan minat pengunjung datang ke Kabupaten Sumba Timur adalah dengan mengedepankan Ekowisata berbasis masyarakat (community-based ecotourism)
Pola ekowisata berbasis masyarakat adalah pola pengembangan ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh oleh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh.
Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif komunitas. Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak. Pola ekowisata berbasis masyarakat mengakui hak masyarakat lokal dalam mengelola kegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun sebagai pengelola.
Ekowisata berbasis masyarakat dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, dan mengurangi kemiskinan, di mana penghasilan ekowisata adalah dari  jasa-jasa wisata untuk turis: fee pemandu; ongkos transportasi; homestay; menjual kerajinan, dll. Ekowisata membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan ekowisata.
Dengan adanya pola ekowisata berbasis masyarakat bukan berarti bahwa masyarakat akan menjalankan usaha ekowisata sendiri. Tataran implementasi ekowisata perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan pembangunan terpadu yang dilakukan di suatu daerah. Untuk itu, pelibatan para pihak terkait mulai dari level komunitas, masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan organisasi non pemerintah diharapkan membangun suatu jaringan dan menjalankan suatu kemitraan yang baik sesuai perandan keahlian masing-masing.

Beberapa aspek kunci dalam ekowisata berbasis masyarakat adalah:
·         Masyarakat membentuk panitia atau lembaga untuk pengelolaan kegiatan ekowisata di daerahnya, dengan dukungan dari pemerintah dan organisasi masyarakat (nilai partisipasi masyarakat dan edukasi)
·         Prinsip local ownership (=pengelolaan dan kepemilikan oleh masyarakat setempat) diterapkan sedapat mungkin terhadap sarana dan pra-sarana ekowisata, kawasan ekowisata, dll (nilai partisipasi masyarakat)
·         Homestay menjadi pilihan utama untuk sarana akomodasi di lokasi wisata (nilai ekonomi dan edukasi)
·         Pemandu adalah orang setempat (nilai partisipasi masyarakat)
·         Perintisan, pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata menjadi tanggungjawab masyarakat setempat, termasuk penentuan biaya (=fee) untuk wisatawan (nilai ekonomi dan wisata).

Sarana dan penyediaan jasa pendukung dalam mengembangkan ekowisata yang bernilai konservasi dan ekonomi tinggi

     Industri pariwisata adalah industri yang diperkirakan akan terus berkembang, dan nuansa alam dalam industri ini akan semakin jauh meningkat. Ekowisata dapat menciptakan nilai ekonomis bagi kawasan-kawasan konservasi. Agar bisnis ekowisata dapat menguntungkan sebagai mana yang diharapkan, beberapa kondisi harus diciptakan, yaitu Meningkatkan dan menambah sarana prasarana pendukung serta mendorong terbuka dan  terhubungnya akses ke/dari dan antar daerah tujuan ekowisata

Ada dua aspek yang sangat terkait dan perlu dibahas secara bersamaan jika ingin mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat sebagai satu usaha yang berhasil.  Usaha harus layak secara ekonomi, menghasilkan pendapatan yang signifikan untuk masyarakat setempat, dan dikelola secara profesional. Kemudian, usaha tersebut perlu adil, bermanfaat buat masyarakat lokal sebagai mitra utama, dan mendukung konservasi secara nyata.

Dalam mengembangkan pemasaran, strategi pencitraan (branding) dan promosi untuk produk ekowisata sangat penting, melalui:
·         Mengikuti kegiatan promosi dan pemasaran berskala internasional
·         Melakukan survei pasar secara berkala untuk mengetahui dinamika pasar
·         Mengidentifikasi target pasar untuk produk ekowisata yang dikembangkan
·         Menyelenggarakan promosi secara khusus (fam trip, media trip, dll.)
·         Membuka dan menjalin hubungan terbuka dengan pihak swasta dan mendorong adanya kesepakatan antara organisasi masyarakat dengan tour operator.

Prinsip-prinsip pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dan konservasi.

1.    Keberlanjutan Ekowisata dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan  (prinsip konservasi dan partisipasi masyarakat)
Ekowisata yang dikembangkan di kawasan konservasi adalah ekowisata yang “HIJAU dan ADIL” (Green& Fair) untuk kepentingan pembangunan berkelanjutan dan konservasi, yaitu sebuah kegiatan usaha yang bertujuan untuk menyediakan alternative ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan yang dilindungi, berbagi manfaat dari upaya konservasi secara layak (terutama bagi masyarakat yang lahan dan sumberdaya alamnya berada di kawasan yang dilindungi), dan berkontribusi pada konservasi dengan meningkatkan kepedulian dan dukungan terhadap perlindungan bentang lahan yang memiliki nilai biologis, ekologis dan nilai sejarah yang tinggi.

Kriteria:
·         Prinsip daya dukung lingkungan diperhatikan dimana tingkat kunjungan dan kegiatan wisatawan pada sebuah daerah tujuan ekowisata dikelola sesuai dengan batas-batas yang dapat diterima baik dari segi alam maupun sosial-budaya
·         Sedapat mungkin menggunakan teknologi ramah lingkungan (listrik tenaga surya, mikrohidro, biogas, dll.)
·         Mendorong terbentuknya ”ecotourism conservancies” atau kawasan ekowisata sebagai kawasan dengan peruntukan khusus yang pengelolaannya diberikan kepada organisasi masyarakat yang berkompeten

2.    Pengembangan institusi masyarakat lokal dan kemitraan (Prinsip partisipasi masyarakat)
Aspek organisasi dan kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata juga menjadi isu kunci: pentingnya dukungan yang profesional dalam menguatkan organisasi lokal secara kontinyu, mendorong usaha yang mandiri dan menciptakan kemitraan yang adil dalam pengembangan ekowisata. Beberapa contoh di lapangan menunjukan bahwa ekowisata di tingkat lokal dapat dikembangkan melalui kesepakatan dan kerjasama yang baik antara Tour Operator dan organisasi masyarakat. Peran organisasi masyarakat sangat penting oleh karena masyarakat adalah stakeholder utama dan akan mendapatkan manfaat secara langsung dari pengembangan dan pengelolaan ekowisata.
Koordinasi antar stakeholders juga perlu mendapatkan perhatian. Dimana pengelolaan ekowisata yang melibatkan semua stakeholders termasuk, masyarakat, pemerintah daerah, UPT, dan sektor swasta,  Terbentuknya Forum atau dewan pembina akan banyak membantu pola pengelolaan yang adil dan efektif terutama di daerah di mana ekowisata merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat setempat.
Kriteria:
·         Dibangun kemitraan antara masyarakat dengan Tour Operator untuk memasarkan dan mempromosikan produk ekowisata; dan antara lembaga masyarakat dan Dinas Pariwisata dan UPT
·         Adanya pembagian adil dalam pendapatan dari jasa ekowisata di masyarakat
·         Organisasi masyarakat membuat panduan untuk turis. Selama turis berada di wilayah masyarakat, turis/tamu mengacu pada etika yang tertulis di dalam panduan tersebut.
·         Ekowisata memperjuangkan prinsip perlunya usaha melindungi pengetahuan serta hak atas karya intelektual masyarakat lokal, termasuk: foto, kesenian, pengetahuan tradisional, musik, dll.

3.    Ekonomi berbasis masyarakat (Prinsip partisipasi masyarakat)
Homestay adalah sistem akomodasi yang sering dipakai dalam ekowisata. Homestay bisa mencakup berbagai jenis akomodasi dari penginapan sederhana yang dikelola secara langsung oleh keluarga sampai dengan menginap di rumah keluarga setempat.
Homestay bukan hanya sebuah pilihan akomodasi yang tidak memerlukan modal yang tinggi, dengan sistem homestay pemilik rumah dapat merasakan secara langsung manfaat ekonomi dari kunjungan turis, dan distribusi manfaat di masyarakat lebih terjamin. Sistem homestay mempunyai nilai tinggi sebagai produk ekowisata di mana  seorang turis mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai alam, budaya masyarakat dan kehidupan sehari-hari di lokasi tersebut. Pihak turis dan pihak tuan rumah bisa saling mengenal dan belajar satu sama lain, dan dengan itu dapat menumbuhkan toleransi dan pemahaman yang lebih baik.
Homestay sesuai dengan tradisi keramahan orang Indonesia. Dalam ekowisata, pemandu adalah orang lokal yang pengetahuan dan pengalamannya tentang lingkungan dan alam setempat merupakan aset terpenting dalam jasa yang diberikan kepada turis. Demikian juga seorang pemandu lokal akan merasakan langsung manfaat ekonomi dari ekowisata, dan sebagai pengelola juga akan menjaga kelestarian alam dan obyek wisata

4.    Prinsip Edukasi.
Ekowisata memberikan banyak peluang untuk memperkenalkan kepada wisatawan tentang pentingnya perlindungan alam dan penghargaan terhadap kebudayaan lokal. Dalam pendekatan ekowisata, Pusat Informasi menjadi hal yang penting dan dapat juga dijadikan pusat kegiatan dengan tujuan meningkatkan nilai dari pengalaman seorang turis yang bisa memperoleh informasi yang lengkap tentang lokasi atau kawasan dari segi budaya, sejarah, alam, dan menyaksikan acara seni, kerajinan dan produk budaya lainnya.
         Kriteria:
·         Kegiatan ekowisata mendorong masyarakat mendukung dan mengembangkan upaya konservasi
·         Kegiatan ekowisata selalu beriringan dengan aktivitas meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengubah perilaku masyarakat tentang perlunya upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
·         Edukasi tentang budaya setempat dan konservasi untuk para turis/tamu menjadi bagian dari paket ekowisata
·         Mengembangkan skema di mana tamu secara sukarela terlibat dalam
·         Kegiatan konservasi dan pengelolaan kawasan ekowisata selama kunjungannya (stay & volunteer).


5.    Pengembangan dan penerapan rencana tapak dan kerangka kerja pengelolaan lokasi ekowisata (prinsip konservasi dan wisata).
Dalam perencanaan kawasan ekowisata, soal daya dukung (=carrying capacity) perlu diperhatikan sebelum perkembanganya ekowisata berdampak negative terhadap alam (dan budaya) setempat. Aspek dari daya dukung yang perlu dipertimbangkan adalah: jumlah turis/tahun; lamanya kunjungan turis; berapa sering lokasi yang “rentan” secara ekologis dapat dikunjungi; dll. Zonasi dan pengaturannya adalah salah satu pendekatan yang akan membantu menjaga nilai konservasi dan keberlanjutan kawasan ekowisata.
                Kriteria:
·         Kegiatan ekowisata telah memperhitungkan tingkat pemanfaatan ruang dan kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan melalui pelaksanaan sistem zonasi dan pengaturan waktu kunjungan
·         Fasilitas pendukung yang dibangun tidak merusak atau didirikan pada ekosistem yang sangat unik dan rentan
·         Rancangan fasilitas umum sedapat mungkin sesuai tradisi lokal, dan masyarakat lokal terlibat dalam proses perencanaan dan pembangunan
·         Ada sistem pengolahan sampah di sekitar fasilitas umum.
·         Kegiatan ekowisata medukung program reboisasi untuk menyimbangi penggunaan kayu bakar untuk dapur dan rumah
·         Mengembangkan paket-paket wisata yang mengedepankan budaya, seni dan tradisi lokal.
·         Kegiatan sehari-hari termasuk panen, menanam, mencari ikan/melauk, berburu dapat dimasukkan ke dalam atraksi lokal untuk memperkenalkan wisatawan pada cara hidup masyarakat dan mengajak mereka menghargai pengetahuan dan kearifan lokal.

0 komentar:

Poskan Komentar